Aku merenungi semua tentang sikapmu, tentang perubahanmu, dan tentang kita. Semenjak kejadian malam itu, keraguan, ketakutan dan kejanggalan yang aku rasakan. Mungkin kamu menganggap apa yang kupikirkan tidak begitu penting, tapi bagiku..
Tulisan ini "setidaknya" mampu membuatku sedikit lebih lega dan aku tidak terlalu memikirkan, "Apa sebenarnya yang salah? Kenapa sikapmu mulai berubah?"
Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kamu tahu itu? Aku rasa tidak, kamu tidak memperdulikanku sedalam aku memperdulikanmu. Tak ada cinta dimatamu, sedalam cinta yang ku miliki. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang aku punya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.
Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kamu pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak sama seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu masih pantas ku perjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?
Sejujurnya aku merindukanmu yang dulu. Tindakan-tindakan kecilmu yang kusebut perhatian, Celotehanmu yang kadang sering membuatku tertawa disaat kesepian mulai menghantuiku. Aku berusaha tak memikirkan dan mengeluh padamu. Aku mencoba membiarkanmu tetap seperti sekarang. Entahlah.. harus sampai kapan aku masih bisa bertahan dengan sikapmu, perubahanmu yang perlahan merobek hatiku dan penyebab tangisku.
Dari seseorang yang merindukanmu yang dulu

0 komentar:
Posting Komentar